Situasi Kemanusiaan di Gaza Memburuk
https://frenchysymphony.com/ GAZA – Rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza melaporkan sebanyak 15 orang, termasuk empat anak-anak, meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi dalam kurun 24 jam terakhir. Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa (22 Juli 2025).
Dengan penambahan tersebut, total korban meninggal karena kelaparan di wilayah Gaza telah mencapai 101 jiwa sejak dimulainya serangan militer Israel pada Oktober 2023. Dari jumlah itu, sebanyak 80 di antaranya adalah anak-anak.
Kondisi Anak-anak dan Keluarga Sangat Memprihatinkan
“Keadaan anak-anak dan keluarga mereka di Gaza sangat mengkhawatirkan,” kata Rachel Cummings, Direktur Kemanusiaan dari Save the Children, kepada Al Jazeera saat berada di Deir el-Balah, Gaza tengah. Ia mengungkapkan bahwa ketersediaan pangan di wilayah itu sudah lama tidak mencukupi.
“Pasar-pasar tidak lagi menyediakan makanan, dan air bersih sangat sulit diakses oleh lebih dari dua juta penduduk Gaza yang kini berada di ambang kelaparan,” jelasnya. Menurutnya, ia menyaksikan sendiri anak-anak berjalan membawa mangkuk kosong, mencari makanan dan air. “Sangat menyedihkan,” tambahnya.
Gizi Buruk Menyerang Semua Kalangan
Ia melanjutkan bahwa fasilitas kesehatan yang mereka kelola mencatat peningkatan jumlah anak-anak yang menderita kekurangan gizi, begitu pula dengan ibu hamil dan menyusui yang mulai menunjukkan gejala malnutrisi.
“Saat ini, hampir semua orang di Gaza merasakan lapar. Bahkan anggota tim saya sendiri mulai kehilangan tenaga karena kurang makan, dan tidak ada yang bisa mereka beli di pasar,” katanya.
Tenaga Medis Juga Terdampak
Deirdre Nunan, seorang dokter ortopedi asal Kanada yang menjadi sukarelawan di RS Al Nasser, Khan Younis, menyebutkan bahwa para tenaga medis bekerja dalam tekanan tinggi dengan waktu kerja hingga 24 jam.
“Setiap harinya hanya tersedia satu kali makan sederhana. Kemarin, kami hanya mendapat lentil, dan sebelumnya nasi yang dimasak dengan sedikit jagung. Kandungan nutrisinya sangat minim dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi harian,” ungkapnya.
“Saat saya bertanya pada kolega tentang makanan yang mereka konsumsi sebelum bekerja, sebagian besar menjawab bahwa mereka hanya meminum air putih,” katanya. Salah satu perawat bahkan mengaku harus membagi satu lembar roti pita menjadi empat bagian untuk diberikan kepada keempat anaknya, dan melakukan hal yang sama sepulang kerja.
